NYONGKOLAN ADAT SASAK YANG DIPENGARUHI ZAMAN




NYONGKOLAN ADAT SASAK YANG MENGIKUTI PERKEMBANGAN ZAMAN
 Hasil gambar untuk nyongkolan

Nyongkolan berasal dari kata songkol/sondol yang berarti mendorong dari belakang. Nyongkolan bisa didefinisikan sebagai mengiringi atau mengawal pengantin untuk bertandang ke rumah keluarga pengantin wanita dalam sebuah prosesi adat pernikahan masyarakat Sasak, nyongkolan dilakukan setelah akad nikah dilaksanakan, terkadang satu minggu setelah akad nikah bahkan satu bulan, tergantung kesiapan dari pihak pria, karena tidak ada ketentuan khusus kapan harus dilaksanakan dalam hukum adat. Prosesi nyongkolan bukanlah suatu keharusan dalam sebuah upacara pernikahan dikalangan masyarakat suku Sasak, bahkan tak jarang masyarakat tidak melaksanakan adat nyongkolan dalam upacara pernikahan, akan tetapi sebagian masyarakat tertentu yang mengharuskan dengan alasan adat atau peraturan leluhur yang harus diikuti.

Suku Sasak tidak lain merupakan penduduk asli Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Istilah nyongkolan mewakili kegiatan yang berupa prosesi pengiringan sepasang pengantin dalam rangkaian acara merarik (menikah). Dalam prosesi nyongkolan pengantin wanita berjalan di depan yang didampingi dan diiringi oleh teman-teman wanita sebagai dayang-dayang karena diibaratkan sang pengantin wanita sebagai permaisuri, kemudian berjalan di belakangnya pengantin pria yang juga didampingi karena pengantin pria juga diibaratkan sebagai seorang raja. Dibarisan paling belakang sekelompok pemain musik tradisional seperti gendang beleq, ale-ale, dan rudat.

Namun pada saat ini budaya nyongkolan sudah mulai berubah mengikuti zaman, dari segi pakaian yang digunakan sudah tidak seperti yang dulu lagi, dengan perkembangan zaman yang semakin maju, para pemuda dan pemudi serta masyarakat merubah baju adatnya, yang dimana dahulu laki-laki memakai baju lengan panjang, begitu juga dikalangan perempuan sudah tidak memakai lambung (pakaian khas adat sasak). Nyongkolan pada masa sekarang acapkali mengundang konflik, hal ini terjadi dikarenakan konsep nyongkolan sudah melenceng dari adat dan agama. Pelaksanaan nyongkolan yang dulu dengan yang sekarang sudah tidak sama lagi. Hal ini diakibatkan dengan arus perkembangan zaman yang berkembang, kalau dulu alat musik yang digunakan dalam acara nyongkolan adalah alat-alat musik tradisional seperti, gendang beleq, rudat, dan ale-ale, sekarang bisa kita lihat sudah banyak diganti dengan alat musik kecimol yang cendrung penari wanitanya bergoyang vulgar. Oleh sebab itu para pemuda dan pemudi goyang-goyangan seperti orang kerasukan akibat mengkonsumsi minuman keras mengikuti alunan musik tersebut, karena lagu yang dimainkan adalah lagu yang menggairahkan bagi para pendengarnya. Ini semua sudah keluar dari adat leluhur dan moralitas agama.




Komentar

  1. Lalu siapa yg harus disalahkan atas kejadian ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya semuanya salah. dimana pemerintah juga tidak ingin meluruskan dan memberi tahu bagaimana sebenarnya nyongkolan. sosialisasi juga diperlukan dalam kejadian ini.

      Hapus
  2. Anda sebagai masyarakat Sasak Tulen, harus mampu merubah pandangan masyarakat Sasak terhadap nyongkolan. Biar tidak disalahguna.😊

    BalasHapus
  3. Anda sebagai masyarakat Sasak Tulen, harus mampu merubah pandangan masyarakat Sasak terhadap nyongkolan. Biar tidak disalahguna.😊

    BalasHapus
  4. Tugas kita semua yang mengembalikan nilai moral adat istiadat dan tradisi budaya kita agar kembali pada norma2 yang seharusnya

    BalasHapus
  5. Bagaimana cara memperthankan budaya sasak kalau masih anak muda yg amburadul tentang budayanya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu tergantung pribadi diri kita masing masing menyikapinya.. perubahan mulai dari diri sendiri

      Hapus
  6. terima kasih akhi..
    artikel anda sangat inspiratif semoga bermanfaat bagi banyak orang... LANJUTKAN

    BalasHapus

Posting Komentar